Selingkuh Hanya Menacari kepuasan Seks
Pada dasarnya suamiku itu selalu menuruti keinginanku, maka tanpa banyak bicara dia mengijinkan aku bekerja, walaupun aku sendiri belum tahu bekerja dimana , dan perusahaan mana yang akan menerimaku sebagai seorang Accounting, karena aku sudah berkeluarga. poker pelangi
''Bukankah kamu punya teman yang anak seorang Direktur di sini ?'' Kata suamiku di suatu malam setelah kami melakukan hubungan badan.
''iya... si Yuli, teman kuliah Rahma..!'' kataku
''Coba deh, kamu hubungi dia besok. Kali saja dia mau menolong kamu...! katanya lagi.
''Tapi benar nih.. Mas.. kamu ijinkan aku bekerja..?''
Mas Herman mengangguk mesra sambil menatapku kembali.
Sambil tersenyum, perlahan dia dekatkan wajahnya ke wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku.
''Terimakasih.. Mas.., mmhh..!'' kusambut ciuman mesranya.
Dan beberapa lama kemudian kami pun mulai terangsang laagi,dan melanjutkan persetubuhan suami istri untuk babak yang ketiga . Kenikmatan demi kenikmatan kami raih. Samapi kami lelah dan tanpa di sadari kami pun terlelap menuju alam mimpi kami masing-masing.
Perlu kuceritakan di sini bahwa Reza, anak kami tidak bersama kami. Dia kutitipkan ke nenek dan kakeknya yang berada di daerah lain, walaupun masih satu kota. Kedua orang tua ku sangat menyayangi cucunya ini, karena anakku adalah satu-satunya cucu laki-laki mereka.
Siang itu ketika aku terbangun dari mimpiku, aku tidak mendapatkan suamiku tidur di sisiku. Aku menengok jam dinding. Rupanya suamiku sudah berangkat kerja karena jam dinding itu sudah pukul sembilan pagi. Aku teringat saat percakapan kami semalam. Maka sambil mengenakan pakaian tidurku (tanpa BH celana dalamku), aku beranjak dari tempat tidur berjalan menuju ruang tamu rumahku, mengangkat telpon yang ada di meja dan memutar telpon Yuli, temanku itu.
''Hallo.. ini Yuli..!!'' kataku membuka percakan saat kudengar telpon yang ku hubungi itu terangkat.
''Iya.., siapa nih..? ''tanya Yuli.
''Ini.. aku Rahma..!''
''Oh Rahma..., ada apa..?tanyanya lagi.
''Boleh nggak sejarang aku ke rumahmu, aku kangen sama kamu nih..!'' kataku.
''Silahkan..., kebetulan aku libur hari ini..!.. jawab Yuli.
''Oke deh.., nanti sebelum makan siang aku ke rumahm. Masak yang enak ya, biar aku bisa makan di sana..!" kataku sambil sedikit tertawa.
''Sialn luh. Oke deh.., cepetan ke sini.., di tunggu loh..!''
''Oke.., sampai ketemu yaa.. daah..!'' kataku sambil menutup telpon itu.
Setelah menelpon Yuli, aku berjalan menuju kamar mandi. DI kamar mandi itu aku melepa pakaianku semuanya dan langsung membersihkan tubuhku. Namun sebelumnya aku bermasturbasi sejenak dengan memasukkan jariku ke dalam vagina ku sendiri sambil pikiranku menerawang mengingat kejadian-kejadian yang semalam baru ku alami. Membayangkan suamiku walau tidak begitu besar namun memberikan kepuasan padaku. Dan ini merupakan kebiasaanku.
Walaupun aku telah bersuami, namun aku selalu mentup kenikmatan bersetubuh dengan Mas Herman dengan bermasturbusi, karena kadang-kadang bermasturbusi lebih nikmat.
Singkat cerita, siang itu aku sudah berada di depan rumah Yuli yang besar itu. Dan Yuli menyambutku saat aku mengetuk pintunya.
''Apa kabar Rahma..?'' begitu katanya sambil mencium pipiku.
''Seperti yang kamu lihat sekarang ini..!'' jawabku.
Setelah berbasa-basi, Yuli membimbingku masuk ke ruangan tengah dan mempersilahkan aku untuk duduk.
''Sebentar ya.., janu santailah dahulu, aku ambil minuman di belakang...'' Lalu Yuli meninggalkanku.
Aku segera duduk di sofanya yang empuk. Aku memperhatikan sekeliling ruangan ini. Bagus sekali rumahnya, beda dengan rumahku. Di setiap sudut ruang terdapat hiasan-hiasan yang indah., dan pasti mahal-mahal. Foto-foto Yuli dan suaminya terpampang di dinding-dinding. Sandi yang dahulu kala sempat menaksir aku, yang kini menjadi suaminya Yuli, terlihat semakin ganteng saja. Dalam pikiranku berkata, menyesal juga aku acuh tak acuh terhadapnya dahulu. Coba kalau aku terima cintanya, mungkin aku yang akan menjadi istrinya.
Sambil terus memandang foto Sandi, suaminya, terlintas pula dalam ingatanku betapa pada saat kuliah dulu lelaku keturunan manado ini mencoba menarik perhatianku (aku, Yuli dan Sandi memang satu kampus). Sandi memang orang kaya. Dia adalah anak pejabat pemerintahan di Jakarta. Pada awalnya aku pun tertarik, namun karena aku tidak suka dengan sifatnya yang sedikit sombong, maka segala perhatiannya padaku tidak ku tanggapi. Aku takut jika tidak cocok dengannya, karena aku orangnya sangat sederhana.
Lamunanku dikagetkan oleh munculnya Yuli. Sambil membawa minuman, Yuli berjalan ke arah aku duduk, menaruh dua gelas sirup dan mempersilahkanku untuk minum.
''Ayo Rahma, di minum dulu..!'' katanya.
Aku mengambil sirup itu dan meminumnya. Beberapa teguk aku minum sampai rasa dahaga yang sejak tadi terasa hilang, aku kembali menaruh gelas itu.
Yuli memang sampai sekarang belum menngetahui bahwa suaminya dulu pernah naksir aku.
Tapi mungkin juga Sandi sudah memberitahukannya.
''Kamu menginap yah.. di sini..!!'' kata Yuli.
''Akh... enggak ah, tidak enak kan..!'' kataku.
''Loh.. nggak enak gimana, kita kan sahabat. Sandi pun kenal kamu. Lagian sudah mempersiapkan kamar untuk kamu, dan aku pun sedang ambil cuti kok, jadi temani aku ya.., oke..!''
katanya.
''Kasihan Mas Herman sendirian..!'' kataku.
''aah... Mas Herman kan selalu menuruti ke inginanmu, bilang aja kamu mau menginap sehari di sini menemani aku. Apa aku harus yang bicara padanya...?"
"oke deh kalau begitu.., aku pinjam telponmu ya ..!" kataku.
"Tuh di sana..!" kata Yuli sambil menunjuk ke arah telpon.
Aku segera memutar nomer telpon kantor suamiku. Dengan sedikit berbohong, aku meminta ijin untuk meniginap di rumah Yuli. Dan menganjurkan untuk Mas Herman tidur di rumah orang tuaku. Seperti biasa Mas Herman mengijinkan keinginanku. Dan setelah basa-basi dengan suamikui, segera kututup gagang telpon itu. agen dominoqq
"Beres..!'' Kataku sambil kembali uduk di sofa ruang tamu.
"Nah.., gitu dong..! Ayo kutunjukan kamarmu..!'' katanya sambil membimbingku.
Di belakang Yuli aku mengikuti langkahnya. Dari belakang itu juga aku memperhatikan tubuh montoknya. Yuli tidak berubah sejak dahulu. Pantatnya yang terbungkus celana jeans pendek yang kuat melenggak-lenggok. Pinggulnya yang remping sungguh indah, membuatku iseng mencubit pantatnya.
"kamu masih montok saja, Yul..!" kataku sambil mencubit pantatnya.
"Aw.., akh.. kamu. kamu juga masih seksi saja. Bisa-bisa Mas Sandi bisa naksir sama kamu..!" sambil mencubit buah dadaku.Kami tertawa ceikikikan sampai kamar yang dipersiapkan untukku sudah di depan mataku.
"Nah ini kamarmu nanti..!" kata Yuli sambil membuka pintu kamar itu.
Besar sekali kamar itu. Indah dengan hiasan interior yang berseni tinggi. Ranjangnya yang besar dengan sprei yang terbuat dari kain beludru warna biru, menghiasi ruangan ini. Lemari pakaian berukiran ala Bali juga menghiasi kamar, sehingga aku yakin setiap tamu yang menginap di sini akan merasa betah.
Akhirnya di kamar sambil merebahkan diri, kami mengobrol apa saja. Dari pengalaman-pengalaman dahulu hingga kejadian kami masing-masing. Kami saling bercerita tentang keluhan-keluhan kami selama ini. Aku pun bercerita panjang mulai dari persetubuhanku sampai sedetail-detailnya, bahkan aku becerita tentang hubungan bercinta aku dan suamiku. Kadang kami tertawa, kadang kami serius saling mendengarkan dan bercerita. Hingga pembicaraan serius mulai kucucurkan pada sahabatku ini, bahwa aku ingin bekerja di perusahaan bapaknya yang di rektur.
"Gampang itu..!" kata Yuli. ''Aku tinggal menghubungi Papa nanti di Jakarta. Kamu pasti langsung di beri pekerjaan. Papaku kan tahu kalau kamu adalah satu-satunya sahabatku di dunia ini..''
lanjutnya sambil tertawa lepas.
Tentu saja aku senang dengan apa yang di bicarakan oleh Yuli, dan kami pun meneruskan obrolan kami selalin obrolan yang serius barusan.
Tanpa terasa, di luar sudah gelap. Aku minta ijin ke Yuli untuk mandi. Tapi malah mengajakku mandi bersama. Dan aku tidak menolakknya. Karena aku berpikir toh sama-sama wwanita. Sungguh di luar dugaan, di kamar mandi kita sama-sama telanjang bulat, Yuli memberikan sesuatu hal yang sama sekali tidak terpikirkan olehku.
Sebelum air hangan itu membanjiri tubuh kami, Yuli sambil tidak henti-hentinya memuji keindahan tubuhku. Semula aku risih, namun rasa risih itu hilang oleh perasaan yang lain yang telah menjalar di sekujur tubuhku. Sentuhan-sentuhan tanganya ke sekujur tubuhku membuatku nikmat dan tidak kuasa aku menolaknya. Apalagi ketika Yuli menyentuh bagian tubuh yang sensisitif.
Kelembutan tubuh Yuli yang memeluk membuatku merinding begitu rupa. Buah dadaku dan buah dadanya saling beradu. Sementara bulu-bulu lebat yang berada di bawah perut Yuli terasa halus menyentuh daerah bawah perutku yang juga di tumbuhi bulu-bulu. Namun bulu-bulu kemaluanku tidak selebat milikinya, sehingga terasa sekali kelembutan itu ketika Yuli menggoyangkan pinggulnya.
karena suasana yang demikian , aku pun menikmati segala apa yang dia lakukakn. Kami benar-benar melupakan bahwa kami sama-sama perempuan. Perasaan itu hilang akibat kenikmatan yang terus mengaliri tubuh. Dan pada akhirnya kami saling berpandangan, saling tersenyum, dan mulut kami saling berciuman.
Kedua tanganku yang semula tidak bergerak kini mulai melingkar di tubuhnya. Tanganku menenlusuri punggungnya yang halus dari atas sampai ke bawah dan terhenti di bagian buah pantatnya. Buah pantatnya yang kencang itu secara refleks kuremas-remas. Tangan Yuli pun demikian, dengan lembut dia pun meremas-remas dia pun meremas -remas pantantku, membuat semakin naik terbawa arus suasana. Semakin aku mencium bibirnya dengan bernafsu, di balasnya ciumanku itu dengan bernafsu.
Hingga suatu saat ketika Yuli melepas ciuman bibirnya, lalu mulai mencium leherku dan semakin turun ke bawah, bibrnya kini menemukan buah dadaku yang mengeras. Tanpa berkata-kata sambil sejenak meilirik padaku, Yuli mencium dua bukit payudaraku secara bergantian. Napsku mulai cemburu hingga akhirnya aku menjerit kecil ketika bibir itu menghisap puting susuku. Dan sungguh aku menikmati semuanya, karena baru pertama kali ini aku di ciumi oleh seorang wanita.
"Akh.., Yuli.., oh..!" jerit kecilku sedikit menggema.
"Kenapa Rahma.., enak ya..!" katanya di sela-sela menghisap putingku.
"Iya..,oh enakkss.., terus..!" kataku sambil menekan kepalanya.
Di beri semangat begitu, Yuli semakin gencar menghisap-hisap putingku, namun tetap lembut mesra. Tangan kirinya sambil menahan tubuhku di punggung.
Sementara tangan kanannya turun ke bawah menuju kemaluanku. Aku teringat akan suamiku yang sering melakukan hal serupa, namun perbedaannya terasa sekali, Yuli sangat lembut memanjakan tubuh ini, mungkin karena dia juga wanita.
Setelah tangan kanannya turun ke bawah menuju kemaluanku, dengan lembut sekali dia membelainya. Jarinya sesekali menggesek kelentitku yang masih tersembunyi , maka aku segera membuka pahaku sedikit agar kelentitku yang terasa mengeras itu leluasa keluar.
Ketika jari itu menyentuh keletintku yang mengeras, semakin asyikk Yuli memainkan kelentitku itu, sehingga aku semakin tidak dapat mengendalikan tubuhku. Aku menggelinjang hebat ketika rasa geli bercampur dengan rasa nikmat menjamah tubuhku. Pori-pori sudah mengeluarkan keringat dingin, di dalam liang vaginaku sudah terasa ada cairan hangat yang mengalir perlahan, pertanda rangsangan yang sungguh membuatku menjadi nikmat.
"Ingin yang lebih ya..?" Kata Yuli.
Sambil tersenyum aku mengangguk pelan. Tubuhku di angkatnya dan aku duduk di ujung bak mandi yang terbuat dari porselen. Setelah aku memposisikan sedemikian rupa, tangan Yuli dengan cekatan membuka kedua pahaku lebar-lebar, maka vaginaku kini terbuka bebas. Dengan posisi berlutut, Yuli mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Aku menunggu perlakuannya dengan jantung yang berdebar kencang.
Napasku turun naik, dadaku terasa panas, begitu pun vaginaku yang terlihat pada cermin yang terletak di depanku sudah mengkilat akibat basah, terasa hangat. Namun rasa hangat itu di sejukkan oleh angin yang kelaur dari kedua lubang hidung Yuli. Tangan Yuli kembali membelai vaginaku. menguakan belahannya untuk menyentuh kelentitku yang semakin tegang.
Segera aku memalingkan wajahku ke arah belakangku. Dan...,(hampir saja aku teriak kalau mulutku tidak buru-buru kututup oleh tanganku ), dengan jelas di belakangku berdiri tubuh lelaki dengan hanya menggunakan celana dalam berwarna putih yang tidak lain Mas Sandi suami Yuli. Dengan refleks karena kaget aku langsung berdiri dan bermaksud lari dari ruangan ini. Namun tangan Yuli cepat menangkap tanganku lalu menariku sehingga aku pun terjatuh dengan posisi duduk lagi di ranjang yang empuk itu.
"Mau kemana...Rahma.., udah sini temani aku..!" kata Yuli setengah bebisik.
Aku tidak sempat berkata apa-apa ketika Mas Sandi mulai bergerak menuju aku. Dadaku berdebar-debar . Ada perasaan malu di dalam hatiku.
"Halo.., Rahma. Lama tidak bertemu ya..," suara Mas Sandi sambil menggema di ruangan itu.
Tangannya mendarat di pundakku, dan lama bertengger di situ.
Aku yang gelagapan tentu saja semakin gelagapan. Namun ketika tangan Yuli di lepaskan dari cengkramannya, pada saat itu tidak ada keinginanku untuk menghindar. Tubuhku terasa kaku, sama sekali aku tidak dapat bergerak. Lidahku pun terasa kelu, namun beberapa saat aku memksa bibirku berkata-kata.
"Apa-apaan ini..,? "tanyaku sambil bertanya melihat ke arah Yuli.
Sementara tangan yang tadi bertengger di bahuku mulai bergerak membelai-belai. Serr.., tubuhku merinding. Terasa bulu-bulu halus di tangan dan kaki berdiri semua dan tegak.
Rupanya sentuhan tangan Mas Sandi mampi membangkitkan birahku kembali. Apalagi ketika terasa di bahuku yang di sebelah kiri juga di darati oleh tangan Mas Sandi yang satunya lagi.
Perasaan malu yang tadi segera sirna. Tubuhku semakin merinding. Mataku tanpa sadar terpejam menikmati dalam-dalam sentuhan tangan Mas Sandi di bahuku itu.
pijatan-pijatan kecil di bahuku terasa nyaman dan enak sekali. Aku begitu menikmati apa yang terasa. Hingga beberapa saat kemudian tubuhuku melemas. Kepalaku mulai tertahan oleh perut Mas Sandi yang masih berada di belakangku. Sejenak aku membuka mataku, Nampak Yuli membelai vaginanya sendiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri meremas pelan payudaranya secara bergantian. Tersinggung senyuman di bibirnya.
"Nikmati Rahma..! Nikmati apa yang kamu rasakan sekarang ..!" suara Yuli sedikit membisik.
Aku masih terbuai oleh sentuhan kedua tangan Mas Sandiyang mulai mendarat di daerah atas payudara yang tidak tertutup. Mataku masih terpejam.
"Ini.. kan yang kamu inginkan. Kupinjamkan suamiku..!" kata Yuli lagi.
Mataku terbuka dan kembali memperhatikan Yuli yang masih dengan posisinya.
"Ayo mas..! Nikmati Rahma yang pernah kamu taksir dulu..!" kata Yuli lagi.
"Tentu saja sayang.., asal kamu ijinkan..!" kata suara berat Mas Sandi.
Tubuhnya di bungkukan . Kemudian wajahnya di tempelkan di bagian atas keplaku. Terasa bibirnya mencium mesra daerah itu. Kembali aku memjamkan mata. Bulu-buluku semakin keras berdiri. Sentuhan-sebtuhan lembut tangan Mas Sandi benar-benar nikmat. Sangat pintar sekali sentuhan itu memancing girahku untuk bangkit. Apalagi ketika tangan Mas Sandi sebelah kanan berusaha membuka kain handuk yang masih menutupi tubuhku itu.
"Oh.., Mas.., Mas.. jajngannn... Mas!" aku hanya dapat berkata begitu tanpa kuasa menahan tindak Mas Sandi yang telah berhasil membuka handuk dan membuangnya jauh-jauh.
Tinggallah tubuh setengah bugilku. Kini gairahku sudah memuncak dan aku mulai lupa dengan keadaanku. Aku sudah terbiius suasana.
Mas Sandi mulai berlutut, namun masih pada posisi di belakangku. Kembali dia membelai seluruh tubuhku. Dari punggungku, lalu ke perut, naik ke atas, leherku pun kena giliran di sentuhnya, dan desahan kecil terdengar dari mulut Yuli.
Aku meilirik sejenak ke arah Yuli, ternyata dia sedang masturbasi. Lalu aku memejamkan mata lagi, kepalaku kutengadahkan memberikan ruang pada leherku untuk di Ciumi Mas Sandi.
Perasaaku sudah tidak malu-malu lagi, aku sudah kepalang basah. Aku lupa bahwa aku tela bersuami, dan aku benar-benar akan merasakan apa yang akan kurasakan nanti, dengan lelaku yang bukan suamiku.
"Buka ya..BH-nya , Rahma..!" Kata Mas Sandi sambil melepas kancing tali BH-ku dari punggung.
Beberapa detik BHiitu terlepas, meka terasa bebas kedua payudaraku yang sejak tadi tertekan karena mengeras. Suara Yuli semakin keras, ternyata dia mencapai orgasmenya. Kembali aku melikir Yuli yang membenamkan jari manis dan jari telunjuknya ke dalam vaginanya sendiri. Terlihat dia mengejang dengan mengangkat pinggulnya.
"Akhh.., nikmatsssss.. ohhh...nikmatsss... , seklaliiii...!" begitu kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Dan tidak lama kemudian dia terlukai lemas di ranjang itu. Sementara Mas Sandi sibuk dengan kegiatannya.
Kini payudaraku sudah di remasi dengan mesra oleh keduda telapak tangannya dari belakang. Sambil terus bibirnya menjilati inci demi inci kulit leherku seluruhnya. Sedang enak-enaknya aku, tiba-tiba ada yang menarik celana dalamku. Aku membuka mataku, ternyata Yuli berusaha melepas celana dalamku itu. Maka ku angkat pantatku sejenak memudahkan celana dalamku di lepas oleh Yuli. Maka setelah di lepas, celana dalam itu juga di buang jauh-jauh oleh Yuli.
Aku menggeser posisi duduku menuju ke bagian tengah ranjang itu. Mas Sandi mengikuti gerakanku masih dari belakang, sekarang dia tidak berlutut, namun dudul tepat di belakang tubuhku. Kedua kakinya diselonjorkan, maka pantatku kini berada di antara selangkangan milik Mas Sandi. Terasa oleh pantatku ada tonjolan keras di selangkanganku. Ternyata penis Mas Sandi tengang maksimal.
Lalu yuli membuka lebar-lebar pahaku, sehingga kakiku berada di atas paha Mas Sandi. Lalu dengan posisi tidur tengkurap, yuli mendekatkan wajahnya ke selangkanganku, dan apa yang terjadi...
"Awhh.. oohhh... eeissthhh.. akhh..!'' aku menjerit nikmat ketika kembali kurasakan lidahnya menyapu-nyapu belahan vaginaku, terasa kelntitku semakin menegang, dan aku tidak dapat ,mengendalikan diri akibat nikmat, geli, enak, dan lain sebagainya menyatu di tubuhku.
Kembali kepalaku mengadah sambil mulutku terbuka. Maka Mas Sandi tidak menyia-nyakan kesemepatan ini. Dia tahu maksdku. Dari belakang , bibirnya langsung melumat bibirku yang terbuka itu dengan nafsunya. Maka kubalas ciuman itu dengan nafsu juga. Dia menyedot, aku menyedot pula. Terjadilah pertukaran air liur Mas Sandi dengan air liurku. Tercium aroma rokok pada mulutnya, namun aroma itu tidak mengganggu kenikmatan ini.
Kedua tangan Mas Sandi semakin keras meremas kedua payudaraku, namun menimbulkan nikmat yang teramat, sementara di bawah Yuli semakin mengasyikan . Dia terus menjilat dan mencium vaginaku yang telah banjir. Banjir oleh cairan pelicin vaginaku dan air liur Yuli.
"Mmmhhh.. akhhh.. mmhhh...!" bibirku masih di lumuti oleh bibir Mas Sandi.
Tubuhku semkin panas dan mulai memberikan tanda-tanda bahwa aku akan mencapai puncak kenikmatan yang kutujui. Pada akhirnya, ketika remasan pada payudaraku itu semakin mengeras, dan Yuli menjilat, mencium vaginaku semakin liar, tubuhku menegang kaku, keringat dingin bercucuran dan mereka tahu bahwa aku sedang menikmati orgasmeku. Aku mengangkat pinggulku, otomatis ciuman Yuli terlepas. Semakin orgasmeku terasa ketika jari telunjuk dan jari manis Yului di masukkan ke liang vaginaku, kemudian dicabutnya setengah, lalu di masukan lagi.
Perlakuan Yuli berulang-ulang, yitu mengeluarkan0memasukan kedua jarinya ke dalam lubang vaginaku. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa nikmat dan enak pada saat itu.
"Akhh...aawwhh...nikmastsss... terus... Yuli.. ohh.. yang cepat... akh...!'' teriakku.
Tubuh Mas Sandi menahan tubuhku yang mengejang itu. Jarinya memilin-memilin puting susuku.
Bibirnya mengulum telingaku sambil membisikan sesuatu yang membuatku semakin melayang.
bisikan-bisikan yang memujiku itu tidak pernah kudengar dari Mas Herman, suamiku.
"Ayo cantik..!'' Nikmatilah orgasmemu.., jangan kamu tahan, keluarkan semuanya sayang...!
Nikmatilah.., Nikmatilah..,! Oh.., kamu cantik sekali jika orgasme...!'' begitu bisikan yang keluar dari mulut Mas Sandi terus mengulum telingaku.
''Akhh.., Massss,aduh... Yuli.., nikmattss... oh...enakssss.., sekali...!'' teriakku.
Akhirnya tubuh kejangku muali mengendur , di ikuti dengan turunnya kenikmatan orgasmeku itu.
Perlahan tubuhku lemas terlukai di pangkuas Mas Sandi. Lalu tubuh Yulu mendekapku.
Dia berbisik padaku, ''Ini.. belum seberapanya sayang... Nanti kamu akan rasakan punya suamiku...!'' sambil berkata demikian dia mencium keningku.
Mas Sandi beranjak dari duduknya dan berjalan entah ke arah mana, karena pada saat itu mataku masiih terpejam seakan enggan terbuka.
Entah berapa lama aku terlelap. Ketika kusadar, kubuka mataku perlahan dan mencari-cari Yuli dan Mas Sandi sejenak. Mereka tidak ada di kamar ini, dan rupanya mereka membiarkanku tertidur sendiri. Aku menengok jam dinding, sudah pukul sepuluh maam. Segera aku bangkit dari posisi tidurku, lalu berjalan menuju pintu kamar. Telingaku terdengar alunan suara musik klasik yang berasal dari ruang tamu. Dan ketika kubuka pintu kamar itu yang kebetulan berselahan dengan ruang tamu, mataku menemukan suatu adegan Yuli dan suaminya sedang melakukan persetubuhan.
Yuli dengan posisi menelentang di sofa sedang di tindih oleh Mas Sandi dari atas. Terlihat tubuh Mas Sandi sedang naik turun. Segera mataku ku tujukan pada selangkangan mereka. Jelas terlihat Penis Mas Sandi yang berkait sedang keluar masuk di vagina Yuli. Terdengar juga erengan-erangan yang keluar dari mulut Yulu yang sedang menikmati hujaman penis itu di vaginanya. Membuat tubuhku perlahan memanas. Segera saja kuhampiri mereka dan duduk tepat di depan tubuh mereka.
Di sela-sela kenikmatan, Yuli menatapku dan tersenyum. Ternyata Mas Sandi memperhatikan istirnya dan sejenan dia menghentikan gerakannya yang menengok ke belakang, ke arahku.
''Akh... Mas..., jangan berhenti dooong...! oh...!'' kata Yuli.
Dan Mas Sandi kembali berkonsentrasi lagi dengan kegiatanya. Kembali terdengar desahan-desahan nikmat Yuli yang membahana ke seluruh ruangan tamu itu. Aku kembali gelagepan kembali resah dan tubuhku semakin panas. Dengan refleks tanganku membelai vaginaku sendiri.
''Oh Rahma nikmat sekali...loh! Aku... oohhh... mmhh...!'' kata Yuli kepadaku.
aku melihat wajah nikmat Yuli yang begitu cantik. Kepalanya kadang mendongak ke atas,
matanya terpejam-pejam. Sesekali dia gigit bibir bawahnya. Kedua tangannya melingkar pada pantat suaminya, dan menarik-narik pantat itu dengan keras sekali. Aku melihat pemis Mas Sandi yang besar itu semakin amblas di vagina Yuli. Semakin mengkilat saja penis Mas Sandi itu.
Dapat kubayankan perasaan Yuli pada saat itu. Betapa nikmatnya dia. Dan akupun belingsatan dengan merubah-rubah posisi dudukku di depan mereka. Beberapa saat kemudian, Yuli mulai melemas dari kegiatannya dan merubah posisinya. Segera dia turun dari sofa ketika Mas Sandi mencabut penis dari lubang kenikmatan itu. Aku melihat dengan jelas betapa besar dan panjangnya penis Mas Sandi. Dan ini baru pertama kali aku melihatnya, karena waktu tadi di dalam kamr, Mas Sandi masih menutupinya dengan celana dalam.
Dengan segera Mas Sandi menungging. Lalu segera Mas Sandi berlutut di depan pantat itu.
"Giliranmu... Mas...! Ayooo...! kata Yuli.
Tangan Mas Sandi menggenggam penis itu dan mengarahkan langsung ke dalam lubang vagina Yuli.
Segera dia menekan pantatnya dan melekaslah penis itu ke dalam vagina istirnya, diikuti dengan lenguan Yuli yang sedikit terahan.
''Owhhh... Maas... akkhhh...!''
''Aduh... Yuli..., jepit sayang...!'' kata Mas Sandi.
Beberapa saat kemudian Mas Sandi mulai mengeluh keras. Kuhentikan kegiatanku dan terus memperhatikan mereka.
''Akkhh... Yuli... nikmatss..., akkhhh... aku keluar...!'' teriak Mas Sandi membahana.
''Ohh..., Mas..., aku..., juga..., akhhhhhhhh..!"
Kedua tubuh itu bersamaan mengejang. Mereka mencapai orgsmenya secara bersama-sama.
Penis Mas Sandi yang mengecap di vagina Yuli sampai akhirnya mereka melemas, dan dari belakang tubu Yuli, Mas Sandi memeluknya sambil meremas kedua payudara Yuli. Mas Sandi memasukan semua ke spermanya ke dalam vagina Yuli.
Lama sekali aku melihat mereka tidak bergerak. Ternyata mereka sangat kelelahan. Di sofa itu mereka tertidur bertumpukan. Tubuh Yuli berada di bawah Mas Sandi yang menindihinya mata mereka terpejam seolah tidak memnghiraukan aku yang duduk terpaku di depannya. Hingga aku pun mulai bangkit dari duduku dan beranjak pergi menuju kamarku. Sesampai di kamar aku baru sadar kalau aku masih telanjang bulat. Maka aku pun balik lagi menuju kamar Yuli dimana celana dalam dan BH yang akan kupakai berada di sana.
Selagi aku berjalan melewati ruang tamu itu, aku melihat masih terlukai di sofa itu. Tanpa menghirakan mereka, aku terus berjalan memasuki kamar Yuli dan memungut celana dalam dan Bh yang ada di lantai. Setelah kukenakan semuanya, kembali aku berjalan menuju kamarku dan sempat sekali lagi aku menengok di sofa itu pada saat aku melewati ruang tamu.
Sesampai di kamar, entah kenapa rasa lelah dan kantukku hilang. Aku menjadi semakin resah membayangkan kejadian yang baru kualami. Pertama ketika aku dimasturbasikan oleh suami istri itu. Dan yang kedua aku terus membayangkan kejadian di mana mereka melakukan persetubuhan yang hebat itu. keinginanku untuk merasakan penis Mas Sandi sangat besar. Aku mengharapkan sekali Mas Sandi sekarang menghampiriku dan menikmatiku. Namun itu mungkin tidak terkadi, karena aku melihat mereka sudah lelah sekali.
Entah berapa kali mereka bersetubuh pada saat aku terlelap tadi. Aku semakin tidak dapat, menahan gejolak birahiku sendiri hingga aku merebahkan diriku di kasur empuk. Dengan posisi telungkup, aku mulai memejamka mata dengan maksut agar aku terlelap. Namun semua itu sia-sia. Karena kembali kejadian-kejadian barusan itu terus membayangiku. Secara cepat aku teringat bahwa tadi ketika mereka bersetubuh, aku melakukan masturbasi sendiri dan itu tidak selesai maka tanganku segera kuselipkan di selangkanganku. Aku membelai kembali vaginaku yang terasa panas itu.
Dan ketika tanganku masuk ke dalam celanaku, aku mulai menyetuh klitorisku. Kembali aku nikmati. Aku tidak kuasa membendung perasaan itu, dan jariku mulai menemukan lubang kemaluanku yang berlendir itu. Dengan berusaha membayangkan Mas Sandi menyetubuhiku, kumasukan jari tengahku ke dalam lubang itu dalam-dalam. Kelembutan aku membelai kembali vaginaku yang terasa panas itu.
Sambil mengeluar-memasukan jari tengahku, aku membayangkan betapa besar dan panjangnya penis Mas Sandi. Beda sekali dengan Mas Herman yang kumiliki. Kemaluan Mas Sandi Panjang dan besar normal-normal saja. Sedangkan milik Mas Sandi, Sudah panjang dan besar, di hiasi oleh urat-uratnya yang menonjol di lingkaran batang kemaluannya. Itu semua kulihat tadi dan kini terbayang dan kini terlihat dan kini terbayang di dalam benakku.
Tapa sadar, ketika aku mencapai orgasme, aku membalikan badan dan aku memasukan jari telunjuk kedalam lubang vaginaku. Dalam keadaan telentang aku mengangkangkan selebar mungkin pahaku. Kini dua jariku yang keluar masuk di lubang vaginaku. Maka kenikmatan itu berlanjut hebat sehingga tanpa sadar aku menganggil-manggil pelan nama Mas Sandi.
''Akh... sshh... Masss... okh... Mas...Sandi... aakkhh...!'' itulah yang keluarkan dari mulutku.
Seeer... aku merasa kedua jariku hangat sekali dan semakin licin. Aku mengangkat ke atas pinggulku sambil tidak melepas kedua jariku menancap di lubang vaginaku. Beberapa lama tubuhku merinding, mengejang, dan nikmat tidak terkira. Sampai pada akhirnya aku melemas dan pinggulku turun secara ketika kenikmatan itu perlahan berkurang.
Dan setelah aku puas, barulah kuhentikan hayalan-hayalanku itu. Kutarik selimut yang ada di sampingku dan menutupi sekujur tubuhku yang mulai mendingin. Aku tersenyum sejenak mengingat hal yang barusan, gila... aku masturbasi dengan membayangkan suami orang lain.
Pagi harinya, ketika aku terjaga dari tidurku dan membuka mataku, aku melihat di balik jendela kamar sudaha terang. Jam berapa sekarang, pikirku. Aku menengok jam dinding sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Aku kaget dan bangkit dari posisi tidurku. Ufh..., lemas sekali badan ini rasanya. Kukenakan celana dalamku. Karena udara sedikit dingin, kubalut tubhku dengan selimut dan mulai berdiri.
Ketika berdiri, sedikit ku gerak-gerakan tubuhku dengan maksud agar rasa lemas itu segera hilang.
Lalu dengan gontai aku berjalan menuju pintu kamar dan membuka pintu yang tidak terkunci.
Karena aku ingin buang air kecil, segera aku berjalan menuju kamar mandi, sesampainya di kamar mandi segera kuturnkan celana dalamku dan berjongkok. Keluarlah air hangat urine-ku dari liang vagina. Sangat banyak sekali air kecingku, sampai-sampai aku pegak berjongkok. Beberapa saat kemudian, ketika air kencingku habis, segera ku bersihkan vaginaku dan kembali aku mengenakan celana dalamku, lalu kembali lagi aku melingkari kain selimut itu, karena hanya kain ini yang dapat ku pakai untuk menahan rasa dingin, baju tidur yang akan di pinjamkan oleh Yuli masih berada di kamarnya.
Aku keluar dari kamar itu, lalu berjalan menuju ruangan dapur yang berada tidak jauh dari kamar mandi itu, karena tenggorokanku terasa haus sekali. Di dapur aku mengambil segelas air dan meminumnya.
Setelah minum aku berjalan lagi menuju kamarku. Namun ketika aku sampai pintu kamar, sejenak pandangan mataku menuju ruang tamu. Di sana ada Mas Sandi sedang duduk di sofa sambil menghisap sebatang rokok. Matanya memandangku tajam, namun bibirnya memperlihatkan senyuman yang manis. Dengan berbalut kain selimut di tubuhku, aku menghampiri Mas Sandi yang meperhatikan aku. Lalu aku duduk di sofa yang terletak di depannya. Aku membalas tatapan Mas Sandi itu dengan menyunggingkan senyumanku.
''Yuli mana...?'' tanyaku padanya membuka pembicaraan.
''Sedang ke warung sebentar, katanya sih mau beli maknan...!'' jawabnya.
''Mas Sandi tidak kerja hari ini...?''
''Tidak akh..., malas sekali hari ini. Lagian kan aku tidak mau kehilangan kesempatan...!'' sambil berkata demikian dengan posisi berlutut dia menghampiriku.
Setelah tepat di depanku, segera tangannya melepas kain selimut yang membungkusi tubuhku.
Lalu dengan cepat sekali dia mulai merba-raba tubuhku dari ujung kaki sampai ujung pahaku.
Diperlakukan demikian tentu saja aku geli. Segera bulu-bulu tubuhku berdiri.
''Akh... Mas ...!'' Geliii...!''kataku.
Mas Sandi tidak menghiraukan kata-kataku itu.
Kini dia mulai mendaratkan bibirnya ke seluruh kulit kakiku dari bawah sampai ke atas.
Perlakuannya itu berulang-ulang, sehingga menciptakan rasa geli campur nikmat yang membuatku terangsang.
''Akh... Mas...! Oh.., mmh..!'' aku memegang bagian belakang kepala Mas Sandi dan menariknya ketika mulut lelaku itu mulai mencium vaginaku.
Semakin aku mengangkangkan pahaku, dengan mesranya lidah Mas Sandi mulai menjilat kemaluanku itu. Tubuhku mulai bergerak-gerak tidak beraturan, merasakan nikmat yang tiada tara di sekujur tubuhku.
Aku membuang kain selimut yang masih menempel di tubuhku ke lantai, sementara Mas Sandi masih dengan kegiatannya, yaitu menciumi dan menjilati vaginaku. Aku mengadah menahan nikmat, kedua kakiku naik di tumpangkan di kedua bahunya, namun tangan Mas Sandi menurunkannya dan berusaha membuka lebar-lebar kedua pahaku itu. Pantas saja selangkanganku semakin terkuak lebar dan belahan vaginaku semakin membelah.
''Akh.. Mas..! Shh... nikmats...! Terus Mass...!'' rintihku.
Kedua tangan Mas Sandi ke atas untuk meremas payudaraku yang terasa mengeras,
remasan itu membuatku semakin nikmat saja, dan itu membuat tubuhku semakin menggelinjing.
Segera aku menambah kenikmatanku dengan menguakkan belahan vaginaku, jariku menyentuh
kelentitku sendiri. Oh..., betapa nikmat yang kurasakan, liang kemaluanku sedang di sodok oleh ujung lidah Mas Sandi, kedua payudaraku diremas-remas, dan kelentitku kusentuh dan kupermainkan. Sehingga beberapa detik kemudian terasa tubuhku mengejang hebat disertai
perasaan nikmat teramat sangat di karenakan aku mulai mendekati orgasmeku.
''Oh... Mas...! Aku... ...akh..., nikmats... mhh...!'' bersamaan dengan itu aku mencapai klimaksku.
Tubuhku melayang entah kemana, dan sungguh aku sangat menikmatinya. Apalagi Mas Sandi menyedot keras lubang kemaluanku itu. Tahu bahwa aku sudah mencapai klimaks, Mas Sandi menghentikan kegiatannya dan segera memelekku, mencium bibirku.
''Kamu sunggu cantik, Rahma .., aku cinta padamu...!'' sambil berkata demikuan, dengan pinggulnya dia membuka kembali pahaku, dan terasa batang kemaluannya menyentuh dinding kemaluanku.
Segera tanganku menggenggam kemaluan itu dan mengarahkan langsung ke tepat ke lianh vaginaku.
''Lakukan Mas...! Lakukan sekarang ...! Berikan cintamu padaku sekarang...!'' kataku sambil menerima setiap ciuman di bibirku.
Mas Sandi dengan perlahan memajukan pinggulnya, maka terasa di liang vaginaku ada yang melesak masuk ke dalamnya. Gesekan itu membuat kembali menengadah, sehingga ciumanku terlepas. Betapa panjang dan besarnya kurasakan. Sampai aku merasakan ujung kemaluan itu menyentuuh dinding rahimku.
''Suamimu sepanjang inikah...?'' tanyanya.
Aku menggelengkan kepala sambil terus menikmati melesaknya penis itu di liang vaginaku.
Beberapa saat kemudian sudah amblas semua seluruh batang kemaluan Mas Sandi. Aku pun sempat heran, kok batang penis bisa panjang dan besar itu masuk seluruhnya di vaginakiu.
Segera aku melipatkan kedua kakiku di belakang pantatnya. Sambil kembali mencium bibirku
dengan mesra, Mas Sandi mendiamkan sejenak batang penisnya terbenam di vaginaku, hingga suatu saat dia mulai menarik mundur pantatku perlahan dan memajukannya lagi, menariknya lagi, memajukannya lagim begitu seterusnya hingga tanpa di sadari gerakan Mas Sandi mulai di percepat.
Karuan saja batang penisnya kudambakan itu keluar di vaginaku. Vagina yang seharusnya di nikmati oleh suamiku, Mas Herman.
Di alam kenikmatan, pikiranku menerawang. Aku seorang yang sudah bersuami tengah disentuh oleh orang lain, yang tidak punya hal sama sekali menikmati tubuhku, dan itu sangat di luar dugaanku. seolah-olah aku sudah terjebak di antara sadar dan tidak sadar aku sangat menikmati perselingkuhan ini. Betapa aku sangat mengharapkan kepuasan bersetubuh dari lelaki lain yang bukan suamilu. Ini semua akibat Yuli yang memberi peluang seakang sahabatku itu tahu bahwa aku membutuhkan ini semua. domino99
Beberapa menit berlalu, peluh kami sudah bercucuran. Sampailah aku pada puncak kenikmatan yang kudambakan. Orgasmeku mulai terasa dan sungguh aku sangat menikmatinya. Menikmati orgasmeku oleh laki-laki yang bukan suamiku, menikmati orgasme oleh suami sahabatku. Dan aku tidak menduga kalau rahimku pun menampung air sperma yang keluar dari penis lelaki selain suamiku.
Masih Bingung Cari Situs Judi Online Aman Dan Terpercaya Yuk Gabung Di VIPTIKIQQ,ORG Situs Paling Hoki Dengan Meja berkelas dan Kartu Berkualitas Hanya Bisa Bosku Dapatkan Disini,,Sudah Banyak Bukti Kemenangan Dari Banyak Member Kami,,Lalu Tunggu Apalagi Bosku? Ayoo Segera Kunjungi Websitenya Dan Mainkan 8 Permainannya Yang Sangat Seru sekarang juga yuuk boskuu^^
VIPTIKIQQ,Net menyediakan 8 Permainan yang bisa dimainkan hanya dengan menggunakan 1 USER ID saja, Yaitu : Poker, Capsa susun, DominoQQ, AduQ, BandarQ, Bandar poker, Sakong, BANDAR 66
Tersedia Juga :
Bonus Rollingan 0.3% - 0.5%
Bonus Referral 20%
Minimal DEPOSIT Hanya Rp.15.000,-
Kami Menyediakan 5 bank besar di Indonesia Support untuk Deposit...
=-Ð BCA
=-Ð MANDIRI
=-Ð BRI
=-Ð BNI
=-Ð DANAMON
.
Bagi bosku yang tidak memiliki ke 5 rekening tersebut jangan khawatir yaa^^
Sekarang Kami Support Elektronic Cash Yaitu :
=-Ð T-Cash
=-Ð Mandiri E-Cash
=-Ð Paypro
=-Ð Doku Wallet
=-D OVO Mobile
Silahkan diLogin dengan Login Site berikut ini :
Gabung Dengan Kami Di Link Resmi Kami :
http://www.VIPTIKIQQ/*.info
http://www.VIPTIKIQQ/*.org
http://www.VIPTIKIQQ/*.net
(HAPUS TANDA BINTANG
(Ganti Tanda * Dengan Tanda (titik))







Yuk Buruan ikutan bermain di website www.hokisahabatpk.net
BalasHapusSekarang hokisahabatpk Memiliki Game terbaru Dan Ternama loh...
=> Bonus Refferal 15%
=> Bonus Turn Over 0,5%
=> Minimal Depo 20.000
=> Minimal WD 20.000
=> 100% Member Asli
=> Pelayanan DP & WD 24 jam
=> Livechat Kami 24 Jam Online
=> Bisa Dimainkan Di Hp Android
=> Di Layani Dengan 6 Bank Terbaik
=> 1 User ID 8 Permainan Menarik
Ayo gabung sekarang juga hanya dengan
mengklick POKER ONLINE
* WhatsApp : +855967136164
* Facebook : monicazhang88@yahoo.com
* Fanspage : https://www.facebook.com/www.hokisahabatpk.net
* Twitter : https://twitter.com/ghiaexceliaalfa
* Viber : +855967136164
* Line : sahabatpoker
* Live Chat Customer Service Profesional 24/7 (Nonstop) bersama cs www.hokisahabatpk.net
Blog 1 : Sahabat Poker